
KOPERZONE - Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAKGI) akan dilaksanakan pada 3-7 November 2025 nanti. Adapun tema SAKGI tahun ini adalah 'Berjalan Bersama Sebagai Peziarah Pengharapan: Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian'.
Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin mengatakan, tema SAKGI pada tahun 2025 ini menjadi kesempatan bagi Gereja Katolik untuk membangun sikap saling mendengarkan, mengembangkan dialog yang setara, dan memperbarui komitmen.
"Serta memberdayakan berbagai potensi yang ada untuk turut mewujudkan misi Kristus di dunia ini yaitu terwujudnya hidup damai sejahtera dalam artian yang sebenarnya," ungkap Antonius dalam konferensi pers di Gedung KWI, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (29/10/2025).
Dia melanjutkan, mengingat masih dalam suasana Sumpah Pemuda, kata dia pada 28 Oktober 1928 lalu ketika para pemuda dan pemudi dengan lantang mengucapkan Sumpah Pemuda di mana mereka bertekad untuk berjalan bersama mencintai bangsa ini dan berjuang untuk melawan para penjajah.
"Penjajah bisa diusir dari bumi pertiwi ini juga tidak lepas dari komitmen para pahlawan dan pendiri bangsa ini yang selalu ”berjalan bersama” meskipun berbeda-beda suku, agama, budaya, dan warna kulit. Sampai sekarang kebersamaan di tengah berbagai macam perbedaan itu terangkum dalam semboyan bersama kita, yaitu Bhinneka Tunggal Ika," terangnya.
Adapun, tujuan dari SAGKI tahun 2025 yaitu, 1. Mengembangkan persaudaraan antara hierarki dan umat, 2. Mewujudkan Gereja Katolik sebagai komunitas pengharapan yang berjiwa misioner, 3. Meningkatkan peran Gereja Katolik yang lebih relevan, signifikan, dan
berkesinambungan dalam mewujudkan perdamaian, 4. Menghasilkan arah haluan Gereja Katolik Indonesia untuk lima tahun yang akan datang.
"Dalam rangka mempererat dan meningkatkan kebersamaan dalam semangat berjalan bersama tersebut, dalam prosesnya, SAGKI nanti juga akan ada sesi sharing/ berbagai pengalaman tentang berjalan bersama dari orang muda, lansia, penyandang disabilitas, aktivis lingkungan hidup, dan para tokoh agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia ini," pungkas Antonius. (FS)***